Mungkin banyak masyarakat Islam indonesia khususnya, mengerti dan sadar akan bulan hijriyah apabila Puasa (Romadhon), Lebaran idul fitri (Syawal), Lebaran Haji (Dzulhijjah), dan Tahun baru Islam (Muharram). Lumayan paling tidak sudah empat nama bulan yang familiar di ingatan kita.

Mungkin alangkah baiknya kita tahu nama-nama bulan yang lain dan bagaimana agar mudah mengingatnya? Peribahasa mengatakan uebung macht meister, maknanya menjadi bisa karena biasa. Itu yang paling tepat, yaitu kalau kita sering menggunakannya maka kita tidak akan lupa dan terbiasa.

Alangkah baiknya bila kita tahu sejarah nama-nama bulan itu. Kita mulai dengan bulan MUHARRAM, konon kabarnya dulu sebelum Islam masuk di semenanjung arab, bulan ini disepakati sebagai bulan yg di-HARAM-kan untuk berperang, sehingga dinamankan MUHARRAM. Tetapi pada masa ini masih menggunakan kalender LUNISOLAR, yaitu penanggalan dengan pedoman matahari. Dan bulan MUHARRAM ini jatuh pada sekitar bulan september dan biasa di sebut RA'S SANAH atau kepala tahun, bertepatan dengan berakhirnya musim panas.

Pada bulan oktober daun daun mulai menguning sehingga bulan ini dinamakan bulan SYAFFAR yg berarti KUNING.

Bulan Nopember itu mulai berguguran daun daun, maka awal musim gugur (RABI) itu di sebut RABIUL AWAL.

Pada bulan Desember berkhirnya musim gugur, maka akhir musim gugur (RABI) itu disebut RABIUL AKHIR

Begitu pula pada musim Beku (JUMAD), yaitu ada awal dah akhir musim beku. Awal musim beku di sebut JUMADIL AWWAL, yaitu pada bulan Januari dan JUMADIL AKHIR pada bulan Pebruari

Pada bulan Maret salju mencair (RAJAB) ,maka di sebut bulan RAJAB.

Pada bulan april itu musim semi tiba. Pada bulan april ini dinamakan bulan SYA'BAN yang diambil dari kata syi'b yg berarti lembah. Mungkin kita bertanya mengapa dinamakan lembah, sebab pada bulan ini saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah pertanian atau menggembala ternak.

Pada bulan mei mulai panas membakar kulit, bulan ini dinamai ROMADHON yg berarti pembakaran.

Dan pada bulan Juni disebabkan panas itu meningkat maka disebutlah SYAWWAL yg berarti PENINGKATAN.

Puncak dari musim panas itu terjadi pada bulan Juli, pada musim ini masyarakat lebih senang duduk-duduk dari pada bepergian, maka dari itu dinamakan bulan DZUL QOIDAH diambil dari kata QO'ID yg berarti duduk.

Dan terkhir yaitu bulan DZUL HIJJAH, yaitu bulan haji karena pada bulan itu masyarakat sana menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka ibrahim a.s.

Perlu diingat ini semua masih menggunakan LUNISOLAR atau berpatokan pada matahari ASSYAMSIYAH, setelah beberapa saat agama Islam pada zaman Rasulullah s.a.w mulai berkembang diberlakukanlah kalender LUNAR atau berpatokan dengan bulan atau QOMARIYAH, tetapi dengan nama bulan yang sama. Perhitungannya kira-kira per tahunnya ada selisih 11 hari antara assyamsiyah dan qomariyah. Assyamsiyah satu tahun kira kira 365 hari sedangkan qomariyah satu tahunnya kira kira 354 hari. Dikarenakan ada perbedaan 11 hari itu,maka bisa jadi Jumadil Akhir misalnya yang dulunya musim beku, sekarang boleh jadi jatuh di dzul qoidah atau musim sangat panas. Jadi ini hanya sejarah nama saja.

1. Muharram = Haram berperang (Awal Tahun/Tahun Baru)
2. Syaffar = Kuning (daun mulai menguning)
3. Rabi'ul Awwal = Rabi (Gugur) = awal musim gugur
4. Rabi'ul Akhir = Rabi (Gugur) = akhir musim gugur
5. Jumadil Awwal = Jumaid (Beku) = awal musim dingin
6. Jumadil Akhir = Jumaid (Beku) = akhir musim dingin
7. Rajab = Rajab (Mencair)
8. Sya'ban = Syi'ib (Lembah) = mulai bercocok tanam dan menggembala/di lembah
9. Romadhon = Pembakaran = mulai musim panas
10. Syawwal = Peningkatan = panas meningkat
11. Dzul Qoidah = Qo'id ( Duduk) = puncak musim panas
12. Dzul Hijjah = Haji = pelaksanaan ibadah haji

Wallahu'alam bi shawab.

QS At-Taubah (9) : 36 :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

QS At-Taubah (9) : 37 :
Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir

Sumber : abdulhakamnaqib.blogspot.com
Sabtu, 19 Januari 2008
Posted by alminist note On 07.56 No comments
Comments
0 Comments

0 comments:

Poskan Komentar

  • Facebook
  • Twitter
  • Youtube
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Linkedin

    Download

    download[4]

    Alih Bahasa

    Pengunjung

    Statistik Pengunjung